Minggu 15 Februari 2026

Minggu 15 Februari 2026

Terkadang ada hal paradoks yang hadir dirasakan dalam pikiran, apa sebenarnya yang ia inginkan? apa sebenarnya yang ia pahami? Dalam beberapa situasi, ia terkadang menjadi solusi untuk kebanyakan orang. Ia selalu berusaha untuk menjadi solusi bagi setiap orang. Namun yang nampak ironinya adalah, Ia nampak seperti kesulitan dengan masalahnya sendiri. Ia murung, ia merasa stagnan dengan persoalanya, hari ke hari melaju tanpa solusi. Apa sebenarnya yang terjadi sama ia ?

Aku pikir ia harus mulai sadar diri, sadar akan persoalan yang paling penting yang harus dipikirkan dan harus segera menemukan jalan keluarnya yaitu adalah masalah ia sendiri. Ia harus menyadari bahwasanya semakin lama ia menyelesaikan masalahnya, maka akan semakin besar masalah yang ia alami. Tentu ini malah akan membuat semakin sulit untuk keluar dari masalah, karena masalah akan semakin besar dan persoalan akan semakin rumit. 

Kita hidup ini saling mentransfer energi. Jika kamu dalam kondisi negatif, dalam artian dalam masalah yang pelik yang belum terselesaikan, barang tentu jangan harap kamu akan mampu untuk membantu menyelesaikan masalah orang lain. Ini bukan hal kamu harus bersikap egois ketika kamu berfikir untuk tidak membantu orang lain, justru kamu egois ketika membiarkan dirimu untuk tetap berlarut dalam masalah dasar yang yang menjebakmu sehingga kamu seolah hidup tanpa daya. 

Hal ini memang sering terjadi dan senantiasa menjadi kegalauan sendiri bagi orang-orang yang mengalaminya. Perlu diingat adalah, banyak orang sebenarnya terjebak dalam stagnasi hidup itu bukan diakibatkan oleh faktor eksternal diluar dirinya, namun justru kebanyakan banyak orang-orang mengalami stagnasi yang diakibatkan oleh jebakan fikiranya sendiri. Ia merasa ada pada jalan yang tepat dan benar, padahal ia berada pada alur pikir yang keliru yang malah membuat hari-hari dalam hidupnya nampak seperti rumit. 

Seyogyanya, hidup ini tak perlu rumit jika kita berada pada prinsip koridor dasar alasan untuk apa kita hidup. Kita bukanlah manusia pertama yang hidup di bumi. Dalam artian, kita seharusnya dapat belajar dari nenek moyang kita bagaimana mereka mampu menyambung hidup sampai umur yang panjang dengan segala peningalanya sampai terlahir kita yang saat ini ada entah turunan ke berapa. Lantas kenapa terkadang kita malah sering galau seolah kita tak mampu untuk hanya sebatas menyambung hidup. 

Inilah yang perlu dicermati ulang, bagaimana keadaan pikiran kita saat ini. jangan sampai kita terlena dengan jebakan pikiran yang seolah ia sudah berada pada tempatnya yang tepat. Namun tak mampu menyelesaikan persoalan sederhadana terkait bagaimana kita menyambung hidup. Bagaimana kita berharap untuk ingin memberikan legaci sejarah pada kehidupan yang akan datang, jika untuk menyelesaikan masalah dasar saja perihal bertahan/menyambung hidup nampaknya itu masih belum menjadi masalah yang terselesaikan. 

Jangan sampai perjalanan percakapan yang sudah dilakukan begitu panjang ini malah jadi narasi yang utopis. Kamu perlu menata ulang semuanya, setiap kita sebagai manusia biasa sangat mungkin untuk senantiasa berada dalam kekeliruan, namun satu hal yang tidak boleh lupa, kita boleh salah asal kita juga punya komitmen untuk berusaha memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sudah dilakukan. Jangan sampai kita malah nyaman dengan kebohongan, dimana kita berpandai-pandai mengarang alibi tanpa dasar yang dimana itu dilakukan untuk menutupi kesalahan atau kekurangan kita. Sulitlah untuk kita dapat membangun diri jika nyatanya seperti itu. Pada akhirnya kita hanya akan menjadi pemimpi di siang bolong, dan lupa bahwa realita itu perlu kesadaran dan ukuran yang jelas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Richest Man in Babylonia

Jumat 4 Juli 2025

Jumat, 30 Mei 2025